diam-diam aku pun demikian.
Untuk segala doa yang kau sisipkan disepertiga malam,
kubantu aamiin-kan dengan doa yang serupa.
Dan, untuk segala hadirmu yang menenangkan di kala riuh kepalaku,
Kau adalah penyelamat.
maaf, ini sudah lama aku draft, namun sekarang ingin melanjutkannya.
sempat merasa hidup kembali dengan pertemuan
sederhana kita. senyumanmu yang begitu memendarkan rekahannya. hingga aku lupa.
Awal dari pertemuan sederhana itu, pada akhirnya kembali pada sebuah perpisahan.
Entah untuk menyalahkan diri sendiri, atau kamu.
Bukan aku bersikeras tak ingin menjelaskannya, juga kamu.
Pesan muram yang terakhir kau kirim padaku waktu itu,
cukup membuatku sadar dan mengerti. bukan hanya menyadarkanku dan mengertimu.
Melainkan untuk kita, aku yang sudah menyerah dengan rentetan pemahaman akanmu
dan kamu yang sudah jengah untuk memperbaiki 'kita'.
Entahlah, apa yang membuatku begitu enggan mengabarimu.
bukan karena aku tak ingin, tak rindu, tak jenuh.
sebab, semua keputusanku adalah kamu.
dan sekali lagi, aku mohon maaf.
bila yang ku maksud dengan kata membuatmu terluka
sejujurnya, tak sedikitpun untuk itu.
aku hanya menitipkan luka dengan cara menuliskannya.
Komentar
Posting Komentar