Kaulah Layla-ku

Sepanjang waktu tiada henti-henti kau menyiksaku.
Tapi kejelitaanmu membuatku terus memaafkanmu.
Aku hanyalah lampu, sementara kau matahari.
Sinaranmu menaklukkan cahayaku yang lampai.
Matamu yang tajam membuat api pun cemburu.
Tulip dan mawar pudar ketika bertemu denganmu.
Terpisah? Tak akan pernah! Aku bersumpah kepadamu,
Untuk terus mencintai dan berharap sepanjang waktu.
Kutahankan siksamu pada hari-hariku.
Kalau aku mati, segala anugerah siksa itu,
Akan berubah darah, membanjir ke segala penjuru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini